17 Apr 2015

Alam semesta adalah Guru yang terbaik

Alam adalah Guru yang terbaik , ada yang bilang begitu . Coba Buka matamu, bangkit dan melangkahlah  telusuri jalan dipagi hari. Nikmatilah betapa indahnya alam ini .
Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dari alam tapi kadang kita tidak menyadari bahwa itu sangat penting buat kehidupan lingkungan kita .
Alam mengajak kita untuk belajar kehidupan setiap saat. Benjamin Franklin mengatakan, ” Umumnya manusia akan meninggal di usia 25 tahun namun baru dimakamkan di usia 70 tahun.” Arti kalimat ini jelas bahwa umumnya manusia mengejar cita-cita sebelum usia 30 tahun, manusia pada umumnya hidup dengan mengulangi rutinitas setelah usia 30 tahun.


Marilah kita terus belajar, termasuk belajar ke alam! Perhatikan sebuah benih beringin. Jika benih ini tumbuh di tempat yang tepat (subur dan cukup air) maka beringin bisa menjadi pohon raksasa yang berumur hingga ratusan tahun. Namun jika beringin ini kita taruh di media tanam (pot) yang terbatas, beringin akan menjadi pohon kecil. Pohon kecil ini bisa menjadi indah jika kita bentuk menjadi tanaman bonsai.
artinya jika kita menemukan lingkungan yang tepat maka segala potensi kita akan keluar secara optimal. Demikianlah alam mengajarkan kepada kita bahwa kesempatan (peluang) sebenarnya selalu ada, tergantung bagaimana kita melakukan persiapan untuk menangkap kesempatan tersebut.
Masih banyak hal yang perlu kita pelajari dari Alam , coba lihat ada apa saja disekitar kita.


14 Mar 2015

Air terjun dolo



Air terjun dolo
Menurut cerita penduduk setempat di kawasan air terjun Dolo pada zaman dahulu tepatnya pada zaman kewalian di sekitar air terjun Dolo tepatnya di sebelah kanan air terjun ada sebuah pohon besar yang tergantung di atasnya sebuah benda yang sangat misterius, benda tersebut adakalanya dapat dilihat adakalanya tidak dapat dilihat. Dari kisah itu maka muncullah kata Dolo untuk air terjun tersebut, yang mempunyai arti sesuatu yang tergantung (gemandul).
Pantangan yang harus dipatuhi para pengunjung di air terjun Dolo, yakni tidak boleh bersiul, tidak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersenda gurau berlabihan dan tidak boleh mengambil hasil alam berlebihan seperti tumbuhan. Kemudian bagi mereka-mereka yang hendak berkemah di kawasan air terjun Dolo dianjurkan supaya menancapkan semua benda tajam yang mereka bawa ke tanah. Hal ini menurut penduduk setempat dimaksud supaya mereka terhindar dari gangguan makhuluk-makhluk gaib di kawasan tersebut.
Legenda atau asal usul dari air terjun Dolo karena belum ada bukti yang mendukung tentang cerita rakyat tersebut. Namun menurut penduduk setempat mengatakan nama air terjun Dolo berasal dari kata “Gundul Tola Tolo”

Lembu Suro



 Lembu Suro
Konon, Gunung Kelud merupakan tempat dimana Lembu Suro dan Mahesa Suro, dua orang raja yang bukan berasal dari golongan manusia, dikuburkan hidup-hidup. Mereka hampir saja memenangi sayembara menjadi pendamping hidup Puteri Jenggala, Dewi Kilisuci.
Karena merasa tidak bisa menerima jika Lembu Suro atau Mahesa Suro yang akan mempersuntingnya, Dewi Kilisuci membuat rencana untuk mencelakakan mereka. Sang Puteri memerintahkan keduanya untuk berlomba menggali sumur terdalam di puncak Gunung Kelud. Siapa yang berhasil menggali paling dalam akan menjadi pendampingnya kelak.
Naas, ketika tengah berupaya keras menggali sumur di kedalaman yang jauh, Dewi Kilisuci atas restu ayahnya Raja Kediri kemudian memerintahkan para prajurit Kediri mengubur mereka berdua hidup-hidup. Karena merasa dikhianati, Lembu Suro akhirnya mengeluarkan sumpahnya.
Lembu Suro bersumpah akan kembali mendatangi Kediri dan sekitarnya dalam wujud bencana setiap 20 tahun sekali. Meski hanya legenda, namun sumpah Lembu Suro ini terngiang jelas di dalam hati masyarakat Kediri, terlebih ketika dipelajari, Gunung Kelud memang meletus dalam siklus 20 tahun sekali.
Nah, paska letusan Gunung Kelud 13 Februari 2014 lalu, kemunculan patung lembu suro yang ramai dibicarakan beberapa hari terakhir, kian memicu spekulasi akan kebenaran legenda Lembu Suro tersebut.

MITOS GOA SELOMANGKLENG KEDIRI



MITOS GOA SELOMANGKLENG KEDIRI
GOA SELOMANGKLENG terletak dilereng gunung klotok kelurahan pojok,kecamatan mojoroto,kota kediri. Dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng bukit (Jawa=>Selo=Batu, Mangleng=Miring), kira-kira 40 meter dari tanah terendah di kawasan. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, sehingga nampak cukup menyolok dari kejauhan.

  Lokasi tersebut dipercaya sebagai penguji kelanggengan hubungan asmara. Ada yang bilang kalau ada pasangan muda-mudi yang pacaran di area sekitar goa selomangkleng hubungannya akan putus.

salah satu hal yang paling sering di jumpai adalah penampakan Dewi Kilisuci, putri dari Raja Kediri, Djojoamiluhur.  Dewi kilisuci adalah seorang Putri raja yang dalam sejarah dikenal memiliki wajah sangat cantik tersebut, memutuskan bertapa di dalam Goa Selomanleng hingga akhir hayatnya. Itu sebagai upaya menyelamatkan warga Kediri dari amukan Djotosuro, seorang pangeran buruk rupa dari Banyuwangi, yang murka karena gagal mempersuntingnya.




MENGUKIR KEDIRI LEWAT TANGAN BHAGAWANTA BARI.



MENGUKIR KEDIRI LEWAT TANGAN BHAGAWANTA BARI.

Mungkin saja Kediri tidak akan tampil dalam panggung sejarah, andai kata Bagawanta Bhari, seorang tokoh spiritual dari belahan Desa Culanggi, tidak mendapatkan penghargaan dari Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong. Boleh dikata, pada waktu itu bagawanta Bhari, seperti memperoleh penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha, kalau hal itu terjadi sekarang ini. Atau mungkin seperti memperoleh penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Liangkungan.Memang Kiprah Bagawanta Bhari kala itu, bagaimana upaya tokok spiritual ini meyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya. Ketekunannya yang tanpa pamprih inilah akhirnya menghantarkan dirinya sebagai panutan, sekaligus idola masyarakat kala itu.Ketika itu tidak ada istilah Parasanya atau Kalpataru, namun bagi masyarakat yang berhasil dalam ikut serta memakmurkan negara akan mendapat "Ganjaran" seperti Bagawanta Bhari, dirinya juga memperoleh ganjaran itu berupa gelar kehormatan "Wanuta Rama" (ayah yang terhormat atau Kepala Desa) dan tidak dikenakan berbagai macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari, seperti Culanggi dan Kawasan Kabikuannya.Sementara itu daerah seperti wilayah Waruk Sambung dan Wilang, hanya dikenakan "I mas Suwarna" kepada Sri Maharaja setiap bulan "Kesanga" (Centra).Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa "Kring Padammaduy" (Iuran Pemadam Kebakaran), "Tapahaji erhaji" (Iuran yang berkaitan dengan air), "Tuhan Tuha dagang" (Kepala perdagangan), "Tuha hujamman" (Ketua Kelompok masyarakat), "Manghuri" (Pujangga Kraton), "Pakayungan Pakalangkang" (Iuran lumbung padi), "Pamanikan" (Iuran manik-manik, permata) dan masih banyak pajak lainnya.Kala itu juga belum ada piagam penghargaan untuknya. maka sebagai peringatan atas jasanya itu lalu dibuat prasasti sebagai "Pngeleng-eleng" (Peringatan). Prasasti itu diberi nama "HARINJING" B" yang bertahun Masehi 19 September 921 Masehi. Dan disebitlah "Selamat tahun saka telah lampau 843, bulan Asuji, tanggal lima belas paro terang, paringkelan Haryang, Umanis (legi). Budhawara (Hari Rabo), Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada, dewata ahnibudhana, yoga wrsa.Menurut penelitian dari para ahli lembaga Javanologi, Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, Kediri lahir pada Maret 804 Masehi. Sekitar tahun itulah, Kediri mulai disebut-sebut sebagai nama tempat maupun negara. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun dokumen tertulis lainnya yang dapat menyebutkan, kapan sebenarnya Kediri ini benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan maupun sebagai mana tempat.Dari prasasti yang diketemukan kala itu, masih belum ada pemisah wilayah administratif seperti sekarang ini. Yaitu adanya Kabupaten dan Kodya Kediri, sehingga peringatan Hari Jadi Kediri yang sekarang ini masih merupakan milik dua wilayah dengan dua kepala wilayah pula.Menurut para ahli, baik Kadiri maupun Kediri sama-sama berasal dari bahasa Sansekerta, dalam etimologi "Kadiri" disebut sebagai "Kedi" yang artinya "Mandul", tidak berdatang bulan (aprodit). Dalam bahasa Jawa Kuno, "Kedi" juga mempunyai arti "Dikebiri" atau dukun. Menurut Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, nama Kediri tidak ada kaitannya dengan "Kedi" maupun tokok "Rara Kilisuci". Namun berasal dari kata "diri" yang berarti "adeg" (berdiri) yang mendapat awalan "Ka" yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti "Menjadi Raja".Kediri juga dapat berarti mandiri atau berdiri tegak, berkepribadian atau berswasembada. Jadi pendapat yang mengkaitkan Kediri dengan perempuan, apalagi dengan Kedi kurang beralasan. Menurut Drs. Soepomo Poejo Soedarmo, dalam kamus Melayu, kata "Kediri" dan "Kendiri" sering menggantikan kata sendiri.Perubahan pengucapan "Kadiri" menjadi "Kediri" menurut Drs. Soepomo paling tidak ada dua gejala. Yang pertama, gejala usia tua dan gejala informalisasi. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan dalam rumpun bahasa Austronesia sebelah barat, dimana perubahan seperti tadi sering terjadi.