12 May 2015

SEDULUR PAPAT KEBLAT, LIMA PANCER



Keblat Papat,Lima Pancer, di lain sisi diartikan juga sebagai kesadaran mikrokosmos. Dalam diri manusia (inner world) sedulur papat sebagai perlambang empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak dilahirkan di muka bumi.  Sebelum bayi lahir akan didahului oleh keluarnya air ketuban atau air kawah. Setelah bayi keluar dari rahim ibu, akan segera disusul oleh plasenta atau ari-ari. Sewaktu bayi lahir juga disertai keluarnya darah dan  daging. Maka sedulur papat terdiri dari unsur kawah sebagai kakak, ari-ari sebagai adik, dan darah-daging sebagai dulur kembarnya. Jika ke-empat unsur disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer. Konsepsi tersebut kemudian dihubungkan dengan hakekat doa; dalam pandangan Jawa doa merupakan niat atau kebulatan tekad yang harus melibatkan unsur semua unsur raga dan jiwa secara kompak. Maka untuk mengawali suatu pekerjaan disebut dibutuhkan sikap amateg aji (niat ingsun) atau artikulasi kemantaban niat dalam mengawali segala sesuatu kegiatan/rencana/usaha).  Itulah alasan mengapa dalam tradisi Jawa untuk mengawali suatu pekerjaan berat  maupun ringan diawali dengan mengucap; kakang kawah adi ari-ari, kadhangku kang lahir nunggal sedino lan kadhangku kang lahir nunggal sewengi, sedulurku papat kiblat, kelimo pancer…ewang-ewangono aku..saperlu ono gawe ….





5 May 2015

Guru Sejati. Melalui 3 langkahnya (Triwikrama) Dewa Wishnu (Yang Hidup), mengarungi empat macam zaman (kertayuga, tirtayuga, kaliyuga, dwaparayuga), lalu lahirlah manusia dengan konstruksi terdiri dari fisik dan metafisik di dunia (zaman mercapada). Fisik berupa jasad atau raga, sedangkan metafisiknya adalah roh beserta unsur-unsur yang lebih rumit lagi. Ilmu Jawa melihat bahwa roh manusia  memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut pancer atau guru sejati. Pamomong atau Guru Sejati berdiri sendiri menjadi pendamping dan pembimbing roh atau sukma. Roh atau sukma di siram “air suci” oleh guru sejati, sehingga sukma menjadi sukma sejati. Di sini tampak Guru sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita”  kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan  memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten  tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir). Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr yang merupakan rahsa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kuddus). Roh kudus/roh al quds/sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan –dalam konteks ini hakikat rasa sejati– maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”. Jiwa, hawa atau nafs yang telah diperkuat dengan sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds. Disebut juga sebagai an-nafs an-natiqah, dalam terminologi Arab juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/hawa. Jiwa perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh  manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan merubah karakternya menjadi jahat.
Menurut  ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”,  wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan,   berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin. Itulah Guru Sejati anda. Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri. Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itu lah entitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan. Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati nurani (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep). Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan.
Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan laku prihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladihening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan  menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejati nya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih.

4 May 2015

Ikatan Islam DAN Ilmu jawa

Aji kesaktian Ilmu Jawa pernah di kuasai oleh seorang pendekar sekaligus bangsawan yang bernama Raden Said atau lazim disebut sunan Kalijaga atau sunan Kalijogo. Kemudian setelah Raden Said masuk islam dan bergelar sunan Kalijaga, maka dalam menyiarkan dakwahnya sunan Kalijaga tidak menghapus tradisi Jawa yang sangat kental dengan kadigdayaan dan adat istiadat asli Jawa, namun memasukkan nuansa islam ke dalam tradisi Jawa, termasuk ilmu kesaktian Jawa juga diawali dengan bacaan-bacaan islam.
Sehingga akhirnya dengan cepat islam bisa diterima ditanah Jawa sebagai agama mayoritas. Oleh karena itu sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari walisanga mendapat julukan sebagai Da'i terbaik atau penyebar agama islam terbaik di tanah Jawa. Kemudian sejak saat itu muncul berbagai aliran islam kejawen.

Ranggawarsita. Ilmu islam kejawen juga diajarkan oleh seorang pujangga terkenal dari keraton Surakarta Hadiningrat, yaitu Raden Mas Hangabehi Ranggawarsita atau terkenal dengan julukan Ronggowarsito. Ranggawarsita lahir pada tanggal 24 desember 1873 dan wafat pada usia 73 tahun. Ranggawarsita merupakan peramal ulung dan pujangga besar dari keturunan ningrat yang dikenal dengan buku-bukunya tentang berbagai macam aji kesaktian tanah Jawa paling terkenal hingga sekarang.

Kesaktian Ilmu Jawa

Prabu Aji Jayabaya. Dalam hal kesaktian, keampuhan ilmu Jawa sudah terkenal sejak jaman kerajaan kuno ditanah Jawa, misalnya ketika masa berdirinya kerajaan panjalu atau kediri, dimana prabu Aji Jayabaya yang merupakan raja pertama kerajaan panjalu pernah menguasai salah satu kesaktian dari ilmu Jawa.

Jayabaya lahir pada tahun 1135 dan terkenal dengan ramalannya yang mampu menembus masa depan hingga ratusan tahun yang akan datang dengan sangat tepat. Kemudian ramalan Jayabaya dibukukan oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Jayabaya merupakan salah satu peramal paling senior dari 7 peramal ulung terhebat di dunia sepanjang sejarah seperti Nostadramus dari Italia, Vangelia Pandeva Dimitrova dari Bulgaria, Jucelino Nobrega da Luz dari Brasilia, Edgar Cayce dari Amerika serikat, Mother Shipton dari kerajaan Inggris, dan Sollog dari Amerika Serikat.

Prabu Anglingdarma. Anglingdarma adalah seorang pendekar sekaligus raja dari kerajaan Malawapati yang menguasai aji kesaktian ilmu Jawa dan dipercaya pernah ada di pulau Jawa. Prabu anglingdarma terkenal dengan ilmunya bisa merubah wujud menjadi binatang apa saja dan juga bisa menguasai berbagai jenis makhluk gaib. Prabu Anglingdarma merupakan sebuah cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat Jawa bahwa benar-benar pernah ada.

Belajar ilmu jawa


PengertianIlmu Jawa atau dalam bahasa Jawa kuno disebut ngelmu kejawen adalah ilmu yang mengajarkan tata cara dalam kehidupan bermasyarakat agar sesuai dengan tradisi dan kebiasaan orang Jawa. Ilmu ini merupakan pegangan para raja, patih, pendekar dan masyarakat tanah Jawa tempo dulu hingga sekarang.  Ilmu Jawa sangat identik dengan aji kesaktian, walaupun sebenarnya ilmu Jawa lebih cenderung merupakan sebuah tatanan atau aturan dalam hidup bermasyarakat yang bersumber dari kawruh Jawa, yaitu ilmu pengetahuan dan budaya orang Jawa, yang akhirnya lebih populer dengan sebutan Ilmu Jawa.

Oleh karena itu sebenarnya dalam belajar ilmu Jawa bukanlah ingin mendapatkan kesaktian atau kadigdayaan, melainkan belajar memahami dan melaksanakan tata cara dalam hidup bermasyarakat agar bisa menjadi manusia yang baik. Dengan melaksanakan kehidupan bermasyarakat yang baik dengan sesama umat manusia dan senantiasa mengadakan komunikasi dengan sang pencipta, maka seseorang akan mendapat derajat yang mulia dan memperoleh linuwih atau kelebihan dari yang maha kuasa. Itulah arti ilmu Jawa yang sebenarnya.



Ilmu Jawa sangat erat hubungannya dengan cerita pewayangan, dimana dikisahkan bahwa Arjuna berputra Abimanyu, Abimanyu berputra Parikesit, Parikesit berputra Yudayana, Yudayana berputra Gendrayana, Gendrayana berputra Jayabaya, Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma, yang akhirnya menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Hal ini bisa dimaklumi karena menurut kepercayaan orang Jawa, cerita pewayangan adalah gambaran dari kehidupan manusia di dunia yang memang benar-benar ada.